Pertamina Dex memiliki Cetane Number tinggi (53) dengan kandungan sulfur sangat rendah (maksimal 300 ppm), sehingga wajib digunakan untuk mesin diesel Common Rail modern agar injektor tidak cepat jebol. Sementara itu, Dexlite (CN 51, sulfur maksimal 1.200 ppm) lebih diperuntukkan bagi mesin diesel lawas non-common rail. Salah pilih bahan bakar pada mobil diesel bekas bisa berujung turun mesin puluhan juta rupiah; pastikan mobil incaran Anda melewati inspeksi gratis dari Warranty Smart Indonesia untuk mendapatkan perlindungan garansi yang menyeluruh.

Popularitas mobil diesel bekas seperti Toyota Innova, Fortuner, hingga Mitsubishi Pajero Sport terus meroket di Indonesia. Torsi yang "badak" dan durabilitas mesin yang tangguh menjadi alasan utama. Namun, ada satu kebingungan yang sering dialami oleh pemilik atau calon pembeli mobil diesel saat berada di SPBU: "Lebih baik isi Pertamina Dex atau Dexlite?"
Banyak yang mengira perbedaan keduanya hanya terletak pada harga dan tarikan mesin yang sedikit lebih berat. Padahal, salah memilih bahan bakar bisa memicu kerusakan komponen vital yang biaya perbaikannya bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.
Agar tidak salah langkah, mari bedah tuntas perbedaan Dex dan Dexlite secara teknis dan apa dampaknya bagi mesin mobil Anda.
Untuk memahami mana yang terbaik bagi mobil Anda, kita harus melihat langsung pada spesifikasi teknis dari kedua bahan bakar diesel ini.
Cetane Number (CN) pada mesin diesel ibarat Research Octane Number (RON) pada mesin bensin. Semakin tinggi angkanya, semakin sempurna proses pembakarannya.
Ini adalah poin paling krusial yang wajib Anda perhatikan. Kandungan sulfur yang tinggi adalah musuh utama bagi komponen ruang bakar.
Mesin diesel modern masa kini sudah menggunakan teknologi Common Rail dan Variable Nozzle Turbo (VNT) atau Variable Geometry Turbo (VGT). Mesin dengan sistem pengabutan presisi tinggi ini wajib meminum bahan bakar rendah sulfur seperti Pertamina Dex. Di sisi lain, Dexlite lebih direkomendasikan untuk mesin-mesin diesel konvensional generasi lama.
Banyak pemilik mobil diesel modern tergiur menggunakan Dexlite karena harganya yang sedikit lebih miring. Dalam jangka pendek, mobil mungkin terasa normal. Namun, dalam jangka panjang, penumpukan sulfur yang tinggi akan menjadi bencana.
Sulfur akan menciptakan kerak membandel di ruang bakar, membuat filter solar cepat kotor, dan yang terparah: menyumbat hingga merusak injektor. Jika injektor common rail sudah jebol, biaya kalibrasi atau penggantiannya bisa sangat menguras kantong.
Di sinilah letak risiko terbesar saat Anda membeli mobil diesel bekas. Anda tidak pernah tahu riwayat pengisian bahan bakarnya. Apakah pemilik lamanya rutin mengisi Pertamina Dex, atau sering "nakal" mencampur dengan Dexlite demi menghemat biaya?
Mesin bisa saja terdengar halus saat Anda melakukan test drive. Namun, kerusakan injektor akibat penumpukan sulfur bisa menjadi "bom waktu" yang meledak satu atau dua bulan setelah mobil berpindah ke tangan Anda.
Baca juga: Kenapa Harga Bensin Naik? Dampaknya pada Kendaraan & Strategi Hemat Maksimal
Membeli mobil bekas memang penuh teka-teki, tetapi Anda tidak perlu menanggung risikonya sendirian. Di sinilah Warranty Smart Indonesia (WSI) hadir sebagai solusi agar Anda bisa berkendara dengan tenang dan bebas rasa was-was.
Sebagai penyedia layanan garansi mobil bekas terpercaya, WSI menawarkan perlindungan maksimal untuk kendaraan Anda melalui tahapan yang jelas dan menguntungkan:
Bagi Anda pengguna mobil diesel modern berbahan bakar common rail, Pertamina Dex adalah pilihan mutlak untuk menjaga keawetan mesin dan injektor. Sementara Dexlite bisa dijadikan alternatif untuk mesin diesel konvensional.
Jangan biarkan riwayat buruk bahan bakar dari pemilik lama menguras tabungan Anda. Pastikan mobil diesel incaran Anda terlindungi secara menyeluruh. Booking jadwal inspeksi gratis Anda sekarang juga bersama Warranty Smart Indonesia dan nikmati perjalanan tanpa rasa khawatir!