Baterai mobil listrik adalah komponen paling krusial yang menentukan jarak tempuh, performa, dan biaya kepemilikan kendaraan listrik. Ada berbagai jenis baterai, seperti Lithium-ion, LFP, NMC, hingga solid-state, masing-masing dengan karakteristik, kelebihan, dan kekurangannya. Perawatan yang tepat dapat memperpanjang umur baterai hingga belasan tahun.
Baterai mobil listrik sering disebut sebagai “jantung” kendaraan listrik. Tanpa baterai yang andal, mobil listrik tidak akan bisa memberikan performa optimal, jarak tempuh yang stabil, maupun efisiensi biaya jangka panjang. Karena itu, memahami jenis baterai mobil listrik dan cara merawatnya menjadi hal penting, terutama di tengah meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik di Indonesia.
Artikel ini membahas secara lengkap apa itu baterai mobil listrik, jenis-jenisnya, cara kerjanya, hingga tips perawatan agar baterai lebih awet.
Baca juga: MG memperkenalkan teknologi 4EV kepada generasi milenial
Baterai mobil listrik adalah perangkat penyimpan energi listrik yang digunakan untuk menggerakkan motor listrik. Energi yang tersimpan di dalam baterai akan diubah menjadi tenaga mekanis untuk menggerakkan roda kendaraan.
Berbeda dengan baterai aki konvensional pada mobil bensin, baterai EV (Electric Vehicle) memiliki kapasitas jauh lebih besar, sistem manajemen yang kompleks, serta dirancang untuk siklus pengisian dan pengosongan energi yang berulang.

Secara umum, baterai mobil listrik terdiri dari beberapa komponen utama:
Lithium-ion adalah jenis baterai yang paling banyak digunakan pada mobil listrik modern.
Kelebihan:
Kekurangan:
Baterai NiMH banyak digunakan pada mobil hybrid.
Kelebihan:
Kekurangan:
Baterai ini merupakan teknologi lama yang masih digunakan untuk fungsi pendukung.
Kelebihan:
Kekurangan:
Solid-state battery dianggap sebagai masa depan baterai mobil listrik.
Keunggulan:
Tantangan:
Jenis baterai ini sudah jarang digunakan karena mengandung bahan beracun dan kalah efisien dibanding teknologi terbaru.
Ultracapacitor bukan pengganti baterai utama, tetapi berfungsi sebagai penyimpan energi tambahan untuk membantu akselerasi dan sistem regenerative braking.
Saat mobil diisi daya, ion lithium bergerak dari katoda ke anoda. Ketika mobil digunakan, ion tersebut bergerak kembali ke katoda dan menghasilkan energi listrik. Proses ini disebut charge discharge cycle.
Setiap baterai memiliki batas siklus tertentu. Semakin sering baterai diisi dan dikosongkan secara ekstrem, semakin cepat pula degradasinya.
Perawatan baterai yang tepat dapat memperpanjang umur pakainya secara signifikan.
Rata-rata baterai mobil listrik dirancang untuk bertahan 10-15 tahun atau sekitar 200.000-300.000 km, tergantung pola penggunaan dan perawatan. Produsen umumnya memberikan garansi baterai hingga 8 tahun.
Biaya penggantian baterai mobil listrik memang relatif mahal, namun jarang diperlukan dalam waktu singkat. Dengan perawatan yang benar, sebagian besar pemilik mobil listrik tidak perlu mengganti baterai selama bertahun-tahun penggunaan.
Perkembangan teknologi baterai terus berlanjut. Solid-state battery, material baru seperti grafena, serta peningkatan efisiensi produksi diharapkan mampu menurunkan harga baterai dan mempercepat adopsi mobil listrik secara global, termasuk di Indonesia.
Baterai mobil listrik memegang peran vital dalam performa dan efisiensi kendaraan listrik. Dengan memahami jenis baterai mobil listrik, cara kerjanya, serta tips perawatannya, pengguna dapat memaksimalkan umur baterai dan menekan biaya jangka panjang. Ke depan, inovasi teknologi baterai akan menjadi kunci utama pertumbuhan industri mobil listrik.